Tigorpakpahan’s Weblog

Gaji Seorang Ayah

Posted on: 15 Oktober 2008


Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah Perusahaan swasta terkemuka di jakarta, tiba dirumahnya pada pukul 9 malam seperti biasanya. Lalu Dea, putri pertamanya yang baru duduk di kelas 3 SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.
“Koq, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium kening anaknya.
Kerana biasanya Dea memang sudah terlelap ketika ayahnya pulang dan baru bangun ketika ayahnya akan berangkat di pagi hari.
Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Dea menjawab “Aku nunggu ayah pulang. Sebab aku mau tanya, berapa sih gaji ayah ?” dea bertanya dengan polosnya.
Lalu sang ayah menjawab, “Lho koq tumben, koq nanya gaji ayah? Mau minta uang lagi ya ?”
“Ah. enggak. Dea pengen tau aja koq yah..” ucap Dea singkat.
“Oke, kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari ayah bekerja sekitar 190 jam dan di bayar Rp. 400.000,- . Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja . Sabtu dan minggu libur, kadang hari sabtu ayah masih harus lembur. Jadi, gaji papa dalam 1 bulan berapa hayo..? ”
Dea berlari mengambil kertas dan pesilnya dari meja belajar sementara sang ayah melepas sepatu dan menyalakan TV. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk mengganti pakaian, Dea berlari mengikutinya.
“Kalo 1 hari ayah dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam papa digaji Rp. 40.000,- dong ?” katanya.
“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki lalu tidur sana. ” perintah Andrew. Tetapi, Dea tidak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Dea kembali bertanya, ” Ayah, Dea boleh pinjam uang Rp. 5000,- enggak? ”
“Sudah, ga usah macam-mascam lagi Dea, buat apa minta uang malam-malam begini? ayah capek dan mau mandi dulu. Kamu tidur sana” Jawab Andrew.
“Tapi ayah……” Dea meratap. Tapi sebelum Dea melanjutkan ucapannya, Andrew yang sudah habisa kesabarannya membentak putrinya itu, “Ayah bilang tidur! ” hardiknya mengejutkan Dea.
Lalu Dea pun berbalik meninggalkan kamar sang ayah dan berjalan menuju kamarnya
Usai Mandi, sang ayah nampak menyesali karna sudah membentak sang anak. Lalu ia pun menengok Dea dikamar tidurnnya. Ternyata anak kesayangannya itu belum tidur. Andrew mendapati Dea anaknya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu Andrew berkata, “Maafkan ayah y nak, ayah enggak ada niat untuk membentak kamu, tapi memangnya buat apa sih kamu minta uang malam-malam begini? kalau mau beli mainan besok kan bisa, jangankan Rp. 5.000,- lebih dari itu pun ayah pasti kasih” ucap sang ayah.
“Ayah, dea ga minta uang, dea hanya mau pinjam. Nanti akan Dea kembalikan kalau Dea sudah menabung lagi dari uang jajan Dea selama seminggu ini”
“Iya, iya… tapi buat apa uang itu sayang ?” tanya sang ayah dengan lembut.
“Begini yah.. Dea sudah nunggu ayah dai jam 8. Dea mau ajak ayah main ular tangga. Tiga puluh menit aja… Bunda sering bilanng kalau waktu ayah itu sangat berharga. Jadi, Dea mau ganti waktu ayah. Dea buka tabungan dea hanya ada Rp. 15.000,- tapi, karena ayah bilang 1 jam ayah dibayar Rp. 40.000,- maka kalu setengah jam Rp. 20.000,- kan? Tapi uang tabungan Dea masih kurang Rp. 5.000,- makanya Dea mau pinjam dulu dari ayah” kata Dea dengan polosnya.
Andrew pun terdiam, ia kehilangan kata – kata. Dipeluknya bocah kecil itu eat – erat dengan perasaan yang penuh haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang ia berikan selama ini tidaklah cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: